Support

Kamis, 25 Februari 2016

Filled Under: , , , , , ,

Pariwisata Kota Singkawang dalam menyambut Perayaan IMLEK

Kalimantan Tourism

Suasana pasar hongkong, Kota Singkawang, Kalbar/Admin kakilangit007


Dua hari lalu saya berkesempatan berkunjung ke kota Singkawang, Kalimantan Barat. Kota ini hanya berjarak 150 Km atau  2-3 jam dari Pontianak. Kota ini termasuk kota "satelit" Pontianak, karena dari sisi pendapatan daerah dan aktifitas perekonomian masyarakat lebih maju dan modern di banding kabupaten atau kodya lainnya di seluruh Kalbar dan Pontianak sebagai ibukota Provinsi. 

Kota Singkawang berpenduduk 300 ribu jiwa ini memang bergeliat dan lebih maju dalam berbagai bidang. Apakah kota yang heterogen ini memiliki masyarakat dari berbagai kalangan dan berbaur sehingga memicu rasa saling ketergantungan dan bersaing secara elegan sehingga bisa maju dan terlihat tertata dengan rapi? Tentu banyak faktor dan hal lainnya yang menjadi sebab bangkitnya perekonomian kota Singkawang. 

Salah satu faktor lainnya yang tidak kalah hebat adalah, komposisi etnis yang ada di Singkawang ternyata di dominasi oleh warga keturunan China (Tionghoa). Setelah itu barulah warga  Melayu, Dayak, Jawa dan lainnya. Maka tidak heran komposisi penganut agama di seluruh Kabupaten Singkawang adalah 35% beragama Budha, 25% beragama Konghucu, 22% beragama Islam, 12% Kristen  Katolik, 3%Protestan, 2% Tao dan sisanya Hindu dan sebagainya. 

Jika kita menuju ke kota Singkawang jalan darat (dari Pontianak) menjelang masuk ke Kabupaten Singakwang telah terlihat suasana dan "aura" Tinghoa disepanjang kiri-kanan jalan provinsi menuju ke Kota Singkawang. Rumah penduduk di kiri dan kanan jalan di desa-desa dan kecamatan yang dilalui itu hampir seluruhnya warga Indonesia etnis China. Mereka seperti masyarakat di desa atau kampung kita pada umumnya, ada yang sambil ngipas-ngipas, selonjoran, mengayunkan anak, merokok, dan berbagai aktifitas di desa lainnya. Sama persis, mereka tinggal di negeri leluhurnya seperti kita juga.

Menyambut datangnya Imlek dan Cap Go Meh, tak mengherankan,  seluruh Kalimantan Barat terasa hingar bingar. Diantara daerah yang paling hingar bingar itu adalah di Singkawang sendiri. Daerah ini telah turun temurun melaksanakan budaya dan ritual yang menjadi paket acara tersebut. 

Acara perayaan Imlek tahun ini disebut Imlek dan Cap Go Meh 2562. Masyarakat China dan warga setempat sudah terbiasa merayakannya secara bersama-sama. Banyak kegiatan-kegiatan atraktif dilaksanakan dalam acara ini mulai dari pertunjukan barongsai, pawai tatung, bakar kapal/perahu naga, pertunjukan seni tari dan sebagainya.

Tidak heran, menjelang Imlek dan CGM 2562 ini Singkawang mampu menyedot wisatawan dari manca negara ke kota yang mungil ini. Jika Anda datang ke Singkawang dalam minggu ini jangan harap memperoleh kamar hotel yang menarik karena semua kamar hotel telah di booking habis (full booking) oleh pemandu wisata yang kewalahan menerima dan mengatur jumlah order tamu mereka. 

Apa yang menarik selain itu? Tentu masih banyak lagi yang lainnya. Salah satunya adalah gadis-gadis atau wanita Singkawang yang cantik dari turunan China. Banyak juga wanita dari turunan lainnya tapi melihat komposisi di atas ternyata banyak dari turunan China. Wanita turunan ini mirip gadis Vietnam dan Thailand, jadi rata-rata cantik dan menarik memang. 

Dalam perjalanan di salah satu tempat Karaoke dan hiburan malam, saya dan beberapa rekan mencoba menelusuri kehidupan malam di SIngkawang. Ternyata tak beda dengan di kota-kota besar lainnya. Wanita-wanita pendamping di tempat karaoke banyak wanita ketrurunan China. "Orang-orang sudah biasa menyebutnya dengan Amoy,"  kata teman saya. Dalam sebuah acara "survey" menjelang jam 1 malam,  kami coba jalan-jalan menyusuri kota yang baru saja diguyur hujan. Wow. . ternyata benar, di persimpangan jalan yang sepi beberapa wanita dalam posisi menunggu tamu berdiri di tepi persimpangan. Tawar menawar, ternyata tarif short time Rp.300.000. Sedangkan full booking all night hanya Rp.600 ribu. Karena tidak berniat dan hanya sekadar untuk tahu saja kami langsung berangkat pergi ke tempat lain. 

Kami meninggalkan lokasi menuju ke sebuah tempat. Teman saya memandu kami menuju ke rumah seorang mami yang menyediakan beberapa anak asuhan. Sang mami keluar dan memberi penjelasan tatacara bernegosiasi sesuai standard operasional dan prosedur (SOP). Harga, Tips, Fee, Jam pulang dan jaminan kembali nya anak asuh. 

Salah satu anak asuhnya sang mami menetapkan tarif Rp.600 ribuan untuk All Night (walau malam telah menunjukkan pukul 2 dinihari). Kami keberatan, pura-pura tawar Rp.400 ribu. Ia tak mau, sehingga  kami  meninggalkan  lokasi menuju hotel dalam keadaan mengantuk yang amat sangat.

Belum sempat mata terpejam, SMS masuk ke hape teman saya. Isi SMS : "Harganya boleh di tawar, menjadi Rp.500.000.-"  Teman saya balas  SMS :  "Belum cocok, Mam."  Selang 10 menit kemudian, masuk sms lagi, harga menjadi Rp.400 ribu. Terus  15 kemudian sms lagi turun lagi hingga Rp.300 ribu. Belum selesai, 10 menit kemudian -ketika jam menunjukkan pukul 3 dinihari-  harga pun merosot tajam. Layak  seperti indeks saham Nikkei harganya  anjlok pada posisi Rp.200 ribu saja pada pukul 3 pagi. Namun sekali lagi karena kami tidak berniat dan hanya ingin tahu saja, kami tidak menggubris lagi tawaran tersebut. 

Apa yang menyebabkan tarif turun? Sang wanita melalui smsnya mengatakan butuh dana menjelang imlek dan CGM. Sama seperti alasan klise beberapa wanita penghibur lainnya di seluruh tanah air,  jika ditanyakan alasan turun harga  menjelang idul fitri dan natal butuh biaya untuk keluarga dan  sebagainya. Mengenai Amoy-amoy nya kota Singakawang tidak menjadi rahasia lagi. Sudah banyak orang tahu tentang hal ini. Tapi bukanlah ini semata-mata yang menjadi daya tarik dan daya pikat. Yang paling utama dan terutama adalah daya pikat pelaksanaan CGM dan Imlek itu sendiri dalam tatanan masyarakat yang heterogen dan cinta damai. Makanya kota ini menjadi maju.

Perkara masalah Amoy tentu bukan ukuran ikon Kota Singkawang sendiri karena masalah ini ada di mana-mana hampir di seluruh tanah air, bedanya hanya bentuk fisik dan sebutan namanya saja. Namun diakui juga bahwa banyak juga pelancong yang  datang dari berbagai daerah ingin melihat kota Singkawang yang eksotis menjelang Imlek dan CGM walau belum tentu semuanya  ingin melihat amoy-amoy yang eksotis tersebut. 


Smbr: Kompasiana , Abang Guetanyo
Salam 
Kalimantan Tourism

0 komentar: